Skip to main content

Luka Mati

Kau pernah mengatakan, ".. lupakanlah semua yang telah berlalu, temani aku untuk menghadapi apa yang ada di depan kita..". Permintaan itu sungguh ajaib, hingga mampu membuatku mati rasa akan waktu.

Gambar diperoleh dari Remah-remah Roti


Kuceritakan.

Kata Zainuddin kepada Hayati, ".. begitulah perempuan, mengingat kesalahan orang walaupun kecil tapi tak mampu menyadari kesalahannya padahal begitu besar..". Ada yang masih menginggat sepenggal kalimat itu?


Akulah perempuan itu.

"Apa kabar Hati yang mendiami samudera cinta?", sapaan dari orang yang menyimpan penyesalan di dada.

Pertanyaan itu tak pernah ada jawabnya lagi
Setelah apa yang terjadi di beberapa hari berganti minggu hingga bulan menepis tahun kala itu
Tersirat luka yang hingga kini belum terjahit bekasnya
Belum kering masanya
Bahkan bisunya Hati seakan membunuh sebuah titik pengharapanku
Dimana pada Hati itu juga Kau bertimpuh
Dapatkah Kita bertukar tempat?
Biar kurasakan kembali mati itu
Menggantikan kata ajaib yang Kau sirat
Hingga ku mampu melupakan waktu ku membunuhmu
Bagi Mereka yang mendamba ikhlas
Menyesal lah sebelum masanya tiba
Karena Hati itu tak kan berdusta

Jika terlanjur melepas
Jangan kembali
Tika genggam telah di raih
Jangan berlari

Teguran dari Hati yang pernah Membunuh
Sekali
Dua kali
Berkali kali

TETAP MASIH MENGGENGGAM TEGUH

 

Comments

Popular posts from this blog

Diam

Diamnya membunuh. Andai sebuah belati mampu membelah langit, Aku akui Dia mampu menjadi salah satunya. Tak perlu terlihat tajam, meruncing pun sudi menarik hati yang mati. Gambar diperoleh dari Instagram Teruntukmu Cinta.  Jiwa yang menggenggam erat kebencian. Sudikah Kau membagi bisu itu? Bisu yang artinya bisa selangit, seluas samudera yang bahkan tak mendiami  Bumi Bhinneka. Yang katanya lebih berarti dari sebuah ucapan Sumpah, hierarki yang melekat di sendunya senja. Kapankah masa itu tiba? Bersama memecah sunyinya waktu yang dilalui dua kepingan Hati, dimana nyatanya sedang memendam kerinduan di antara ratusan kilometer Kota itu. Tahukah Kau rindu itu? Menunggu tiap detik jengkal jari, hingga menghitung satuan jarak saat tubuhmu dapat kuraih dalam peluk. Adalah kegelisahan yang melanda kala ku terjaga dan menyadari ragamu jauh, tak sedekat jemari menjamah smartphone dan menuliskan kata " Aku mencintaimu.. ". Tidak! Tidak semudah itu. Akib...

Rindu

Tersenyum. Dengan pipi merona dan tatapan cinta, seketika mengisi waktu yang seakan terhenti saat jejak langkahnya menapaki ruang itu. Terpaku melihat sosok yang ditunggunya sekian lama, yang berjalan semakin dekat dengannya. " Dia pulang.. " katanya, mata itu pun tak dapat menahan tangis. Gambar diperoleh di Intisari Online Tika jarak yang selalu dibayangkan tercipta, dijabahnya tangan yang mendamba kelembutan. Di ciumnya sebagai rasa hormat yang telah lama Ia nantikan, lalu berjalan bersama dalam genggaman yang erat. Saat itu mampu mengukirkan betapa terhormatnya Ia sebagai Wanita yang menanti Lelakinya kembali, sungguh merindunya rasa hati ini. Untuk sebuah kata rindu, jarak bahkan waktu seakan mudah dilalui. Dimensi diantara kedunya seperti telah berada di gravitasi yang sama, dan tentu benar mereka masih di langit yang sama. Mereka bertahan hingga saat ini, masih disini dan terus menggenggam erat. Mereka buktikan sejauh ini yang terbaik adalah yang selalu bers...

Aku Ingat

Ku ingat setahun yang lalu, tepat malam ini kutemani langkahmu disunyinya malam. Menemani tidur dan hangat pelukmu, di sela bergantinya waktu dan tahun. Gambar diperoleh dari Tribun-Timur.com Aku ingat tiap pemandangan itu, meriahnya kembang api yang berhamburan di angkasa. Aku ingat sebegitu pentingnya langkahku dalam menapaki jejakmu, tak letih dan belum juga lelah. Harapan tak pernah ingin melihat akhir, hingga yang ku tahu adalah selalu mengawali mula denganmu. Karena aku tahu, cinta itu ada padamu. Kata mereka, aku mungkin gila. Tak pernah bisa tanpa ada kabar darimu. Tapi entah kebetulan atau kenyataan, aku yang saat ini menemani langkahmu tak pernah ingin melepas jejak itu pergi walau sedetik. Tahukah kau, itu mungkin karena terbiasa. Ya benar! Kebiasaan yang kau bentuk sejak mula aku diciptakan di dalam duniamu. Aku bahkan iri dengan salah satu organ yang yang tanpanya kau mungkin takkan ku kenal, jantung yang berdetak selalu dibalik rusuk kirimu. L...